Cari Blog Ini

Rabu, 07 Desember 2011

IKLAN POLITIK DAN KEGAGALAN PARPOL

Pertemuan Terakhir

Dr. Eko Harry Susanto, Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Disampaikan dalam Diskusi Buku: Media dan Komunikasi Politik di Pusat Komunikasi Bisnis Univ. Mercu Buana, Jl. Menteng Raya Jakpus, 29 November 2011

Abstrak

Biaya iklan Pemilihan Umum tahun 2009 mencapai Rp 2,154 triliun. Meningkat sekitar 335 persen dibanding Pemilu 2004. Pada Pemilu 2004 total biaya iklan politik, di luar iklan pemerintah sekitar Rp 400 miliar. Dana untuk mempengaruhi pemilih, melalui iklan politik di media massa memang besar. Karena itu, membuahkan harapan, untuk meminimalisir kelompok non – partisipan atau golongan putih (golput), yang tidak menggunakan suaranya dalam pemilu. Namun ternyata dengan biaya tersebut, partai politik peserta Pemilu, hanya mampu memperoleh 121.504.481 suara sah, dari 176.367.056 pemilih terdaftar. Jumlah tersebut sudah termasuk pemilih yang menggunakan Kartu Tanda Penduduk sebanyak 382.383 orang. Artinya, masyarakat yang sudah terdaftar, tetapi tidak menggunakan suaranya sekitar 49.212.158 (27,77 %). Jumlah ini terlampau besar, jika dikaitkan dengan hiruk pikuk komunikasi politik yang memberikan harapan kesejahteraan kepada masyarakat, sebagai calon konstituen.


I. Pendahuluan

Pasangan SBY Boediono unggul, dengan mendapat 60,80 % suara, dari jumlah pemilih pada pemilu Presiden tahun 2009. Sedangkan duet Megawati – Prabowo, memperoleh 26,79 % dan pasangan M. Jusuf Kalla – Wiranto, mengantongi sekitar 12,41 % suara. Perolehan suara berasal dari 121.504.481 suara sah, dari 176.367.056 pemilih terdaftar di seluruh Indonesia dan luar negeri. (Kompas, 24 Juli 2009)
Tingkat Golput pada Pemilu Presiden tahun 2004, putaran pertama adalah 23,47 %, dan putaran kedua sebanyak 24, 95 %. (Republika, 9 April 2009). Sementara itu, golput dalam pelaksanaan pemilihan presiden tahun 2009, berjumlah 27,77 %. Artinya, dibandingkan dengan pemilihan presien tahap pertama, maupun tahap kedua tahun 2004, tetap saja dalam pemilihan presien tahun 2009 telah terjadi penurunan partisipasi pemilih, dan angka golput meningkat semakin tinggi

II. Dinamika Iklan Politik

Iklan kampanye politik yang menarik perhatian khalayak, tidak selalu sehaluan dengan kepopuleran tokoh politik. Kalau mereka sekadar mengungkapkan sikap kritis, melalui retorika yang berapi – api dalam menyikapi kondisi bangsa Indonesia, itu sudah jamak dilakukan oleh berbagai kelompok.
Untuk bisa membentuk citra dan sikap emosional, yang dijadikan referensi pilihan politik, calon konstituen sudah jamak kalau menuntut agar para tokoh, memahami keadaan yang sesungguhnya di tengah masyarakat. Para kandidat yang diusung parpol, juga diharapkan menjalankan komunikasi homofili, yang menempatkan tokoh – tokoh itu, memang senasib dengan masyarakat pada umumnya. Jadi bukan sekadar ritual obral janji yang mudah untuk diingkari.

III. Biaya Iklan Politik Meningkat

Menurut The Nielsen Company Indonesia, belanja iklan kategori pemerintahan dan politik (governments and politics) mencapai Rp 2,154 triliun. Meningkat sekitar 335 persen dibanding Pemilu 2004. Pada Pemilu 2004 total biaya iklan politik, di luar iklan pemerintah sekitar Rp 400 miliar.
Pada Pemilu 2004 total biaya iklan politik mencapai Rp 400 miliar. Nielsen Media Indonesia mencatat biaya iklan pemerintahan dan politik tahun 2008 telah mencapai Rp 2,208 triliun, atau naik 66 persen dibandingkan dengan tahun 2007 yang hanya Rp.1,327 triliun. Menurut Subiakto (dalam Gazali, 2009), belanja iklan Indonesia tahun 2007 adalah sekitar 40 triliun rupiah, dan sekitar 10 triliun (25 persen) adalah belanja iklan politik. Tahun 2008 dan 2009 iklan politik ini akan meningkat 3 sampai 4 kali lipat lebih besar dari tahun 2007. Sementara Irfan Wachid dari 25frame Indonesia Production mengatakan seorang politikus nasional akan menghabiskan Rp 5 – 10 miliar/bulan untuk biaya poles diri, poles senyum di hadapan rakyat pemilihnya.

V. Keberhasilan Parsial Demokrasi Politik

Dalam kalkulasi makro, yang diletakkan pada perspektif penyelenggaraan pemilu untuk kepentingan seluruh rakyat, maka tingginya jumlah golput jelas bukan hal yang menggembirakan. Terlepas dari, proses pendataan pemilih yang kompleks, dan menghasilkan golput yang “terpaksa”, namun tetap saja menunjukan bahwa partai politik, ternyata tidak mampu mempengaruhi khalayak untuk memberikan suara dalam pemilu tahun 2009. Artinya, dalam bingkai kepentingan kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik, maka eksistensi golput adalah suatu kerugian seluruh rakyat Indonesia, yang sudah mengeluarkan dana sangat banyak dalam pemilihan umum 2009.

VI. Penutup

Partai politik memegang peran dominan dalam pemilihan umum anggota legislatif, maupun pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Dalam upaya mempengaruhi massa agar mau menetapkan pilihannya, maka parpol mengeluarkan biaya kampanye yang sangat besar. Sejak reformasi politik, biaya kampanye parpol dalam menghadapi pemilu terus meningkat, bahkan untuk pemilu yang akan datang diprediksikan akan menelan biaya jauh lebih besar lagi.

Daftar Pustaka

Gazali, Effendi.2009. ”Iklan Politik Sebagai Peluang Bisnis Manusia Komunikasi”, Makalah Seminar Komunikasi Politik di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara, Jakarta, 17 Maret 2009.
Harian Republika, Jakarta, 09 April 2009.
Henessy, Bernard. 1990. Pendapat Umum, Terjemahan Airuddin Nasution, Jakarta ; Erlangga
Kompas, 25 Januari 2008, 5 Juli 2008, 24 Juli 2009, Kompas, 10 Mei 2009
Kompas.2011. ”Kinerja DPR Kini Makin Memburuk Saja. Kompas Edisi Cetak 11 April 2011
Kompas.2011. “Biaya Politik Naik 10 kali Lipat : Politikus Mencari Dana Untuk Kembalikan Modal. Kompas Edisi Cetak, Jumat , 22 Juli 2011
Majalah Tempo, Edisi 21 Juli 2007, Jakarta, 5 April 2009
Mc.Nair, Brian. 2003. An Introduction to Political Communication, London: Routledge
Newmann, Bruce I. dan Richard M. Perloff. 2004. Political Marketing: Theory, Research, and Applications. Mahwah, New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates Publishers
Nimmo, Dan .2000.Political Communication and Public Opinion in America, atau Komunikasi Politik : Komunikator, Pesan dan Media, terjemahan Tjun Surjaman, Bandung : Remaja Rosda Karya.
Pito, Andianus Pito, Toni, Efriza, Kemal Fasyah.2006. Mengenal Teori-teori Politik, Bandung : Penerbit Nuansa
Rakhmat, Jalaluddin. 2003. Psikologi Komunikasi, Bandung: Penerbit P.T. Remaja Rosdakarya
Rivers, William L, Jay W.Jensen dan Theodore Peterson.2003. Mas Media dan Masyarakat Modern, Jakarta : Penerbit Kencana
Sinulingga, Arya M, Agus Sudibyo, Indira R dan Bejo Untung. 2007. kampanye Media Yang Demokratis, Rekomendasi Pengaturan kampanye Media untuk Mamandemen Undang – Undang Pemilu, Jakarta : USAID-From The American People, DRSP- Democratik Reform Support Program dan SET.
Stephenson, D. Grier. 2001.”Naskah Ketiga Prinsip – Prinsip Pemilihan Demokratis” dalam Demokrasi, Jakarta : Office of International Information Programs, US Department of State.
Susanto, Eko Harry. 2005.” Membaca Hasil Jajak Pendapat” dalam Surat Kabar Kompas, Jakarta 9 Agustus 2005
Susanto, Eko Harry. 2005. “ Iklan Puas Diri Mendagri” dalam Surat Kabar Kompas, Jakarta 22 Desember 2005
Susanto, Eko Harry. 2008. “ Iklan Politik” dalam Surat Kabar Sore – Suara Pembaruan, Jakarta 7 Oktober 2008
Tubbs, Stewart L dan Sylvia Moss .2000. Human Communication; Konteks – Konteks Komunikasi, Buku I dan Buku II, terjemahan Deddy Mulyana dan Gembirasari, Bandung : PT. Remaja Rosda Karya.
Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008, tentang Partai Politik
Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2008, tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPRD dan DPD
Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2008, tentang Pemilihan Umum Presiden dan wakil Presiden.
Urofsky, Melvin.2001.”Naskah Pertama Prinsip – Prinsip Dasar Demokrasi” dalam Demokrasi, Jakarta : Office of International Information Programs, US Department of State.
Wood, Julia. 2004. Communication : Theories in Action- An Introduction. Third Edition. Canada : Wadsworth – Thomson Publishing
Power Point Artikel
Artikel lengkap dapat dibaca di Buku “Media dan Politik”  Editor : Heri Budianto, S.Sos., M.Si dan Dr. Farid Hamid, Penerbit : Kerjasama Litera, UMB  dan ASPIKOM, Jakrta , November 2011

(Silahkan baca di Perpustakaan Fikom Untar)

 

Menurut saya sebagai warga negara, pemilih dan pengamat kegiatan politik di negara Indonesia ini, uang para calon pemimpin dibagi sia-sia kepada para pengusaha iklan. Para pemimpin "berduit" mulai malas melakukan kampanye langsung yang lebih dekat ke rakyat. Dari pada menghambur-hamburkan uang untuk berbagai bentuk iklan kampanye, akan lebih efektif bila para kandidat turun langsung ke lapangan dan menemui rakyatnya, memberikan bantuan dan menerangkan langsung apa saja komitmennya bila ia terpilih nanti. Untuk kalangan masyarakat bawah yang tidak mendapat cukup pendidikan, mungkin mereka bisa terpengaruh oleh iklan-iklan politik di media, tapi mereka akan lebih terpengaruh lagi bila telah melihat langsung sosok sang pemimpin. Untuk kalangan menengah ke atas, bukan hal yang mudah mempengaruhi pilihan mereka mengandalkan omongan. Mereka akan lebih tertarik melihat tindakan dan aksi apa saja yang telah dilakukan calon pemimpin agar dipilih dan tentunya dilakukan dengan sikap tulus dan jujur, bukan berpura-pura.

Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh para pemimpin yang mengenyam pendidikan tinggi-tinggi itu? Tidak bisakah mereka lebih kreatif tanpa harus menghambur-hamburkan uang untuk jabatan? Banyak cara dan jalan yang bisa dilalui, jadi jangan hanya menyerah pada birokrasi uang, atur birokrasi itu menjadi sesuatu yang baru, tertata, rapi dan pastinya bersih. Itulah cermin negara reformasi, yaitu demokrasi yang bersih dan jujur. 

Bayangkan uang sebanyak itu dihabiskan hanya untuk program kampanye, sedangkan bisa digunakan untuk menyejahterakan rakyat dan melunasi hutang-hutang negara. Jadi sebagai orang berpendidikan, marilah berpikir pintar. Dalam pemerintahan itu seharusnya duduk orang-orang pintar dan bermoral, bukan orang-orang kaya yang haus kedudukan, harta dan tidak bermoral. Bangun bangsa ini menjadi lebih powerful dibanding negara mana pun di dunia, karena kita sudah diberikan modal tanah yang subur. Walaupun tidak ada yang sempurna di dunia, setidaknya walau SDM kita rendah, jadikan itu sebagai motivasi, moral baik yang dibutuhkan untuk membangun bangsa lebih baik.


Sumber:

http://ekoharrysusanto.wordpress.com/2011/12/06/980/ 

Sumber foto:

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgymnEi73vZ6pDhiMLtImSgHQUGseohM_naEep7HbiYomnDuhp6r0w08jI4t0aiYyeUk_Yayvn1tdbSuiJIXeOj66Ard7zuyX3XbeWnH0sGNU0HvJ7y66gQ8yPR6aB0EQiKkxPWZNEP4Z8/s400/caleg5.jpg

http://2.bp.blogspot.com/_I_PFFJSrTec/TAaNKofzhyI/AAAAAAAACS8/LrP-bE0MDAs/s400/PastiPas.png

http://sanggita.files.wordpress.com/2009/02/foto-caleg-kepedean.jpg

http://lembaranpung.files.wordpress.com/2009/04/demokrat1.jpg?w=300&h=225

Sabtu, 03 Desember 2011

Customer Relationship Management (CRM)

Pertemuan keduabelas, 28 November 2011
Bapak Ray Montha, Director Operation

Customer Trends
In 1970’s Price as the key driver in purchase decisions
In 1980's Value equation by emphasizing brand name (more conspicuous, the better)
In 1990's Tightening of time constraints
And in 2000's Net Shopping, Internet Sales (only for limited price such as clothes, electronics, stationary, foods, etc.)

Business Trends: Hyper-Competitive Market (example Cocacola Company and PT. Sosro Indonesia)
Markets are
- Hyper-competitive and saturated
- Facing compressed marketing cycle times
- Increasingly segmented
Product and Prices
Are increasingly comparable. Customer are demanding more and more differentiated and individualized product
Customer Centricity
Customer are demanding excellent Service and convenient buying and repairing

What is causing we must think about Customer?
-Competition                                      
-Poor customer retention
-Inaccurate Forecast
-Unresponsive service
-Bad flow of information
-Lack of coordination
-Late deliveries

Added values for customers:
-TECHNOLOGY
-GLOBAL COMPETITION
-CUSTOMER DEMAND
-RELATIONSHIP WITH CUSTOMERS
What the different between traditional market and carrefour? The added values are credit card technologi, air conditioning, clean, promotion, member card, bonus, etc.

Irrational customer doesn't care too much about the prices. They just love the good service, happiness that they get and in the excellent emotion, they will be a loyal customer ever.

Reach your customers
Three Main Channels of Customer interaction from enterprise:
-Face to Face
-Internet
-Call Center

Synchronized Interaction
One face to the customer
“Customer should get the same answer anytime, anywhere”
“Employees should have a complete view of the customer / partner”
“One part of your enterprise should not damage the relationship that another part just developed”


Intelligent Collaboration from enterprise to customer = personalization
Continuously learning about customers and using the knowledge to create value within relationships with customer

Intelligent Collaboration from enterprise to partner (such as ASTRA Internasional, Astrido, Tunas for TOYOTA) = collaboration
Building trusted business relationships for long term relationships with partner

Intelligent Collaboration changes customer demands into value creation.


YOU HAVE TWO APPROCHES:
KEEP EXISTING CUSTOMERS
OR
GET NEW CUSTOMERS

CRM (Customer Relationship Management)  is a business strategy designed to optimize profitability,revenue and customer satisfaction by organizing the enterprise around customer segments, fostering customer-satisfying behaviors and linking processes from customers through suppliers. Using technology, creating customer relation, customer handling, call center.

Customer relationship management provides a strategy (a roadmap intended to accomplish the goal of improving your company’s customer focus) and process enabling platform (delivers technology using
a business scenario approach) to respond to both customer and market needs (addresses existing and future industry challenges; from regulatory agencies to the end-consumer) thereby enabling your organization to successfully drive growth (meet company objectives to help improve the bottom line).
Yamaha knows what market needs, it is the first company that creates automatic motorcycle for women segment. Knowing your market-customer using communication skills, competitive products, and amazing advertising!!!!



Industry lifecycle
1. Analytics: Customer Insight, Market Insight, Consumer Insight
2. Brand and product management: Increase market share, Increase Brand awareness, Efficiency of market spending.
3. Marketing and Trade Promotion Management: Effectiveness of market spending, Efficiency of marketing spending, plan, execute and evaluate marketing activities.
4. Key account management: Improve customer service, Increasing revenue, Reducing operating costs.
5. Logistics execution: accurate involcing, Capture in-store observations, integration from bottom-up for analysis.

Benefit of Integrated Solutions
Visibility on all company resources
-Capital – short term to long term
-Material – from raw material up to finish goods
-Capacity – Human Resources and company assets
Improve Productivity and Control
-Employee Productivity
-Better communication with business eco-system
-Improve effectiveness in operations
-Better cost control
-Streamline business process
Timely and Accurate Information
-Fast and easy access of all information
-Quick and better business decision

The Core CRM Process
Understand Customer Behaviour by:
-Developing customer segmentation models
-Modelling customer behaviour which impacts customer profitability (product acquisition, usage,
retention, default)
-Identifying events which trigger behavioural change
-Soliciting significant data from customers
Communicate with Customers to change behaviour by:
-Multi-channel, event-driven communications and conventional campaigns
-Business Rules-base selects customers for campaigns
Test new Campaign approaches & measure effectiveness
-Roll-out successes
-Learn from failures


Customer insight is the heart of effective CRM program. It will enables organizations to understand their customer needs & expectations & retain the most valuable customers



Source:
Mr. Ray Montha's pdf "CRM for Untar"

Jumat, 25 November 2011

Perbandingan GENDER di Indonesia

Pertemuan kesebelas, 21 November 2011
Ibu Henny Wirawan, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara

Di Indonesia sekarang ini, isu gender menjadi hal yang hangat diberitakan. Kasus-kasus bermunculan di media massa dan menjadikan hal-hal mengenai gender menjadi "patut" dan seharusnya. Pada pertemuan kali ini, tema yang diusung adalah perbedaan yang menjadi perbandingan gender di Indonesia. Perspektif masyarakat mengenai hal ini dan hal nyata yang terjadi pada kehidupan sehari-hari.

Pertama akan dijelaskan dahulu beberapa istilah:
1. Persepsi adalah pandangan umum atau bahkan pribadi yang dimiliki individu atau kelompok mengenai suatu hal atau kejadian. Persepti masih dikategorikan dalam tahap kognitif.
2. Stereotip adalah proses pe-label-an atas suatu hal, ras, agama, kelompok tertentu, dll. Stereotip ada yang bersifat positif, negatif dan netral. Tahap selanjutnya adalah menjadi prasangka. 
3. Prasangka/dugaan/asumsi masih dalam tahap kognitif tapi biasanya berarah negatif atau buruk.
4. Prasangka yang berkelanjutan akan bertumbuh menjadi sikap atau tindakan yang biasa disebut diskriminasi atau menjauhkan diri/memisahkan diri/menjelekkan yang lain. Sebagai negara dengan banyak kebudayaan yang berbeda, keempat hal ini menjadi penting untuk dimengerti.

Sex adalah ungkapan yang bisa memiliki 2 arti, sebagai arti biologis dan arti anatomi (laki-laki dan perempuan).
Gender bukan hanya sekedar perbedaan jenis kelamin namun menyatakan peranan, tanggung jawab, kewajiban, status dan hak.


Melalui serangan media massa yang ditujukan ke masyarakat, beberapa pandangan terbentuk di masing-masing pribadi mengenai perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan. Berikut tabel.

Laki-laki
Perempuan
1
Lebih vulgar mengenai hal-hal berbau sex.
Lebih tabu akan hal-hal berbau sex dan pornografi.

NB: Ini adalah didikan dari kecil, bahwa pria biasa dengan hal sex, pornografi dan wanita ditekankan untuk menghindari hal-hal tersebut.
2
Tidak ada pelecehan terhadap pria, kecuali dilakukan sesama jenis (gay/homo).
Pelecehan terhadap wanita sering terjadi bahkan dalam kendaraan umum.
3
Majalah Playboy, FHM diperuntukkan untuk laki-laki yang isinya mengekspos keelokan tubuh wanita.
Tidak ada majalah yang mengekspos tubuh laki-laki untuk dikonsumsi wanita, kebanyakan majalah wanita berisi obrolan lifestyle atau sex setelah berkeluarga.
4
Pelaku pemerkosaan/pelecehan.
Perempuan sebagai korban pemerkosaan/pelecehan.

NB: Walau pun ada wanita yang memperkosa/melecehkan pria namun jumlahnya sangat-sangat kecil. Pria yang diperkosa/dilecehkan ternyata lumayan banyak tapi pelakunya kebanyakan sesama jenis atau kaum gay/homo. Ada juga pelaku pelecehan/pemerkosaan terhadap wanita yang dilakukan sesama jenis yaitu kaum lesbian.
5
Lebih mudah teransang hal-hal berbau pornografi.
Perempuan lebih malu-malu atas hal-hal seperti itu
6
Tidak bisa menahan diri, artinya hawa nafsu didahulukan.
Lebih bisa menahan diri, untuk hal ini logika diutamakan.
7
Lebih berkuasa atas wanita (terlihat pada sinetron).
Lebih tertindas, menangis-nangis (dalam sinetron).
8
Selalu yang benar, artinya bila seorang suami selingkuh dikarenakan istri yang tidak becus, pria yang memerkosa dikarenakan wanita berpakaian terlalu seksi seperti yang ramai dibicarakan mengenai pemerkosaan dalam kendaraan umum yang mengikutsertakan pendapat salah satu gubernur mengenai rok pendek yang dikenakan wanita.
Selalu dipersalahkan. Tidak mengurus rumah, wanita disalahkan, anak salah, wanita yang disalahkan karena didikan yang tidak baik, hampir selalu dan selalu wanita yang disalahkan.

9
Mengkonsumsi pornografi adalah hal yang wajar dilakukan.
Wanita sebagai simbol sex. Iklan menjadikan sensualitas wanita sebagai objek yang menarik pria untuk membeli produk. SPG (Sales Promotion Girl) menjadi penarik pembeli produk. Asalkan tujuan dari sensualitas adalah positif dan tidak mengeksploitasi sebenarnya hal ini masih dalam taraf wajar.
10
Membeli kondom adalah hal wajar.
Wanita yang membeli kondom dianggap wanita nakal. Wanita agresif juga dianggap wanita nakal.
Wanita selalu dituntut tampil sempurna, cantik, karena mata pria tertuju pada kemolekan wajah dan tubuh terlebih dahulu.
11
Laki-laki yang seharusnya menafkahi keluarga walau kenyataannya terkadang tidak seperti itu.
Wanita yang menafkahi keluarga = otoriter dan galak. Sebenarnya tidak ada salahnya wanita sebagai kepala keluarga.

NB: Wanita sebagai sumber ekonomi keluarga dapat membantu suami memenuhi kebutuhan keluarga. Suami seharusnya mendukung dan saling membantu, asalkan ada kesepakatan, diharapkan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dalam berumahtangga. Istri juga harus ingat kewajibannya sebagai ibu rumah tangga. Sebenarnya tidak ada masalah istri berkarier, masalah muncul saat gaji istri lebih besar daripada gaji suaminya.
12
Keperjakaan tidak dipertanyakan dan tidak ada ciri-ciri yang bisa dijadikan patokan.
Keperawanan dipertanyakan, padahal selaput darah sebagai simbol keperawanan bisa rusak kapan saja, saat terjatuh, saat senam, dll.
13
Poligami tidak masalah asal disetujui istri pertama dan bisa adil, yang pada kenyataanya istri pertama tidak akan tahan dan suami tidak bisa adil seperti kasus salah satu petinggi agama.
Poliandri dianggap tidak benar maka jarang ada kasus wanita bersuami banyak, hanya dalam kasus cerai lalu menikah lagi.
14

Korban kekerasan menarik diberitakan seperti yang ramai di media: pemerkosaan terhadap wanita, wanita yang hilang, pembunuhan terhadap wanita.
Inilah perspektif yang timbul di masyarakat Indonesia sekarang ini.

Sebagai warga penerus bangsa, apa kiranya yang bisa kita lakukan untuk menggubah keseluruhan pandangan ini? SULIT NAMUN BISA.. Bisa dilakukan dengan menulis di media, bicara di media bahwa ini yang sekarang sedang terjadi, bagaimana kita menyingkapinya? Tetap dipertahankan seperti ini atau mari kita merubah. Kejadian di kendaraan umum yang membiarkan ibu hamil berdiri dan para pria duduk tenang di kursinya adalah masalah sopan-santun, moral, etika yang harus diperbaiki.
 

TRIVIA:
Ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang mulia. Penghitungan yang dilakukan Ibu Henny apabila ibu rumah tangga harus digaji atas semua yang ia lakukan menghasilkan nilai kurang lebih Rp 600 juta /tahun atas pekerjaan seperti mencuci baju, mengurus rumah, mengurus anak, memasak, melayani suami, dll. Oleh karena itu mari para suami hargai istri anda dan bantulah mereka. Di Jepang ada sebuah terapi yang meminta para suami membawa gondolan di perutnya, dikondisikan seperti saat ibu hamil dan mereka jadi menghargai dan selalu membantu ibu hamil karena telah merasakan sulitnya saat mengandung besar. Tidak bisa tidur tenang, tidak bisa membungkuk, dimana-mana sakit dan bengkak. Marilah kita menghargai istri dan ibu kita dan para wanita berani di dunia ini..!!


Sumber foto:
http://maryhoneyballmep.files.wordpress.com/2010/01/gender.jpg
http://pengacarasemarang.files.wordpress.com/2011/01/gender-oriented-brands.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiynFyo9SXvnU63QX9ZnS5dr-Zvl2Q-zOohC5CDuXNSHYYSV3rBoYqbepkg2Wf95SkvnNn0nuhdbKHrp-wmKmmokYs4QCI3U0bvG4ti7xKKsTIX5VokxQWvaN3FaHC71lSe7kN26251Qwc/s1600/gender.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhErz7w74yaxsGXKA4cFkpPoSjApmQbSxgEUD_QyP1nCscXIOetA4PZdVKBPmP0AiKfApHUUl0Py2uGvVLqfB1iUqLJ1dupLzkvA_Mn5HCmBnQhsEN-uF39gFHaSW52UhgQ4W-0-zERGpDT/s1600/gender.jpg
http://apps.who.int/medicinedocs/documents/h2977e/p06a.gif
http://www.kendat.org/atnesa/images/gender.gif