Pertemuan kedua,05 September 2011
Bpk. Irwan Julianto, wartawan KOMPAS
Pada awal pertemuan, Pak Irwan memutarkan sebuah film dokumenter yang dibuat oleh jurnalis Amerika, berjudul Sex, Lies, and Cigarettes. Isinya mengenai rokok dan penyebarannya. Seperti yang kita ketahui pada tahun 2010 lalu heboh diberitakan seorang balita yang merokok berasal dari Sumatera. Balita tersebut adalah Ardi Suganda yang berumur 3 tahun pada saat itu. Dalam sehari ia bisa menghabiskan 40 batang rokok. Ini adalah salah satu krisis sosial kesehatan yang dialami bangsa ini.
Indonesia adalah negara terpadat keempat di dunia. Dengan banyaknya penduduk dan kehidupan sosial ekonomi yang tidak mendukung maka timbullah banyak permasalahan di masyarakat. Salah satu nya adalah masalah kesehatan yang bersumber dari rokok. Sebagai negara penghasil tembakau terbaik di dunia, Indonesia menjadi ladang subur bagi para pengusaha tembakau untuk mencari laba. Di Amerika sendiri, khususnya Kota New York, rokok sudah menjadi sesuatu yang tabu, orang-orang tidak bisa lagi merokok dalam gedung-gedung. Jikalau terpaksa, merokok pun harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Harga rokok pun naik tajam sekitar $12 per bungkus. Ini merupakan salah satu kebijakan gubernur New York yang dipahami warganya karena kesadaran tinggi akan kesehatan.
Tidak seperti di Indonesia, industri rokok berkembang pesat dan semakin membesar. Banyak jenis rokok dari berbagai merek melakukan inovasi produk agar lebih menarik minat masyarakat. Merek-merek ternama melakukan gencaran iklan di berbagai media dan tempat. Mengadakan berbagai acara dan menjadi sponsor untuk memperluas pengenalan nama dan brand nya. Di jalan-jalan besar Kota Jakarta, iklan rokok terpampang dimana-mana, bahkan di kota kecil sekali pun, setiap jalan tidak lepas dari rayuan merokok.
Rokok adalah pembunuh kejam yang melakukannya perlahan, memberikan kenikmatan yang tinggi, membuat ketagihan, lalu akan mulai membunuh penikmatnya yang terjerumus dengan berbagai penyakit. Kurangnya kesadaran akan nilai kesehatan di Indonesia menjadikan kurang lebih 400.000 nyawa melayang setiap tahunnya akibat merokok. Jumlah ini meningkat setiap tahunnya dan yang lebih tragis adalah nyawa anak-anak mulai terancam. Banyak remaja yang sudah masuk ke perangkap rayuan iklan rokok. Mereka merokok karena dianggap lebih keren, karena tidak ada lagi pihak yang secara tegas melarang, karena rokok mudah didapat dan murah, banyak alasan yang semakin memudahkan para perokok. Perempuan adalah target perokok yang jumlahnya menigkat pesat.
Bila ditanya, tidak akan ada satu pun perusahaan rokok yang mengaku menargetkan penjualan ke anak di bawah umur, tapi secara sadar kita melihat iklan yang dibuat mengambil model anak muda yang gaul. Acara-acara yang dibuat dan disponsori pun biasanya berjiwa muda. Oleh karena itu, kita sebagai anak muda yang berpendidikan hendaknya berpikir kritis. Mungkin kita tidak bisa mempengaruhi orang di sekitar kita untuk berhenti merokok tapi kita bisa memulainya dari diri sendiri.
Banyak skandal yang saya ketahui dari kelas hari ini tapi tidak bisa saya ceritakan secara blak-blakan, takut menyinggung pihak tertentu karena ini adalah media sosial.
Selanjutnya Pak Irwan menjelaskan mengenai advokasi media dan kampanye publik. Media sebagai sarana yang paling ampuh untuk mempengaruhi perilaku masyarakat memegang peran penting dalam kampanye publik, dalam kasus ini adalah iklan rokok.
Media seperti memiliki dua kepribadian, di satu sisi media mendukung pendidikan kesehatan masyarakat dan di sisi lain media mempengaruhi sikap konsumtif masyarakat. Media menjadikan "Say NO" VS "Siapa Takut?" Media yang begitu kuat dalam memperbaiki kehidupan masyarakat malah dimanfaatkan sebagai alat kapitalis penguasa, sifat komersil media tidak akan bisa diredam.
Media kelewat berharga jika hanya dijadikan mesin informasi dan hiburan belaka, padahal media terbukti amat berperan dalam kegiatan AIDS, KB, anti-rokok.
Advokasi media adalah penggunaan strategik media massa untuk meningkatkan inisiatif sosial dalam masyarakat, fokusnya adalah pada perubahan cara pemahaman masalah atas isu kesehatan masyarakat. Kekuatan advokasi media adalah melibatkan masyarakat dalam proses pembuatan kebijakan publik. Hal ini sedang diupayakan pada media di Indonesia karena jelas belum banyak bukti atau hasil yang diberikan advokasi media atas kebijakan publik di Indonesia. Menurut saya, selama media belum bisa seimbang dan menghilangkan konsep penguasa dan komersil, advokasi media sulit menangkap mata dan hati masyarakat, kecuali dilakukan secara terus menerus dan oleh berbagai channel media sehingga perhatian masyarakat tertahan pada satu isu. Sehingga akan mempersatukan masyarakat akan satu ide yang sama.
Evolusi jurnalisme melahirkan jurnalisme damai (pada saat ethnic-cleansing di Rwanda), Compassionate Journalism (Jurnalisme Empati) untuk AIDS. Bukan hanya jurnalisme fakta, tapi sudah berevolusi menjadi jurnalisme makna, yang "memproduksi" makna.
Maka, jadilah masyarakat yang mengkonsumsi media secara sadar dan kritis, kita tau mana yang baik dan mana yang buruk. Pilihlah isi media yang sesuai dengan harapan baik karena hak kita lah untuk hanya menerima yang baik bagi diri kita (gratifikasi media). Tentu saja dunia berubah ke arah yang lebih buruk karena hal buruk dianggap biasa saja sekarang, seperti merokok menjadi hal umum di Indonesia, tapi mari kita berpikir lebih jauh akan efek dan dampaknya bagi kesehatan. Mungkin cara pikir yang berbeda seperti pentingnya industri rokok untuk perekonomian Indonesia membela perkembangan perokok. Tapi sadarkah kita? Kemana uang yang kita habiskan untuk membeli rokok? Apakah kembali untuk meningkatkan kehidupan sosial kita? Dan apakah pemerintah sebagai penerima pajak memberikan asuransi khusus bagi perokok? Tentu saja jawabannya TIDAK.
Bagaimana dengan beratus ribu jiwa yang hidup dengan bekerja di industri rokok? Mari berpikir panjang lagi. Apakah sumber daya alam Indonesia semiskin itu? Indonesia bahkan memiliki Sumber Daya Manusia yang tidak cukup untuk mengolah Sumber Daya Alamnya. Jadi mari kita olah sumber daya alam lainnya untuk menghidupi beratus ribu jiwa yang bekerja di industri rokok.
Sedikit Joke yang SALAH
PR : Perokok
BP : Bukan Perokok
*mereka berdua lagi di bus kota*
PR mengeluarkan sebungkus rokok dari kantung celananya bermaksud untuk menawarkan kepada orang sebelahnya
PR : Mau rokok mas?
BP : oh tidak,, terimakasih
BP bermaksud penasaran, dan ingin memberi arahan kepada si PR supaya tidak merokok, lantas mulailah si BP mengawali pembicaraan
BP : sehari habis berapa batang rokok mas?
PR : Biasanya sih 2 bungkus
BP : sebungkus harganya berapa mas?
PR : 10.000
BP : mas udah berapa tahun ngerokok?
PR : kurang lebih 20 tahun
BP : begini saya kasih gambaran, 1 bungkus harganya 10ribu, satu hari mas habis 2 bungkus, jadi 20.000. kalo satu bulan jadi 20.000 x 30 = 600.000. jadi kalo satu tahun berarti 600.000 x 12 = 7.200.000 , kalo anda udah 20 taun ngerokok berarti 7.200.000 x 20 = 144.000.000.. wahh seharusnya kalo mas gak merokok udah bisa beli mobil tuh!
PR : saya juga kasih gambaran!
BP : silahkan
PR : mas perokok atau tidak?
BP : tidak. itu haram bagi saya
PR : LAH? NAPE LO NAIK BUS? MOBIL LO MANA???
BP : $%^$^#%^^$@$^@
BP : Bukan Perokok
*mereka berdua lagi di bus kota*
PR mengeluarkan sebungkus rokok dari kantung celananya bermaksud untuk menawarkan kepada orang sebelahnya
PR : Mau rokok mas?
BP : oh tidak,, terimakasih
BP bermaksud penasaran, dan ingin memberi arahan kepada si PR supaya tidak merokok, lantas mulailah si BP mengawali pembicaraan
BP : sehari habis berapa batang rokok mas?
PR : Biasanya sih 2 bungkus
BP : sebungkus harganya berapa mas?
PR : 10.000
BP : mas udah berapa tahun ngerokok?
PR : kurang lebih 20 tahun
BP : begini saya kasih gambaran, 1 bungkus harganya 10ribu, satu hari mas habis 2 bungkus, jadi 20.000. kalo satu bulan jadi 20.000 x 30 = 600.000. jadi kalo satu tahun berarti 600.000 x 12 = 7.200.000 , kalo anda udah 20 taun ngerokok berarti 7.200.000 x 20 = 144.000.000.. wahh seharusnya kalo mas gak merokok udah bisa beli mobil tuh!
PR : saya juga kasih gambaran!
BP : silahkan
PR : mas perokok atau tidak?
BP : tidak. itu haram bagi saya
PR : LAH? NAPE LO NAIK BUS? MOBIL LO MANA???
BP : $%^$^#%^^$@$^@
INGAT!!!! INGAT!!!! INI HANYA JOKE, karena ada berbagai aspek yang mempengaruhi mengapa seseorang memiliki atau tidak memiliki mobil.
SUMBER:
Bahan Power Point Pak Irwan Julianto
Film-VANGUARD-Sex, Lies, and Cigarettes
http://www.apasih.com/2011/05/joke-percakapan-2-lelaki-jantan-di-bus.html
Isu menarik. Kerap kali menjadi headline di berbagai media. Walau terdengar klise, rokok memnag tidak pernah membawa efek positif bagi siapapun. Berharap tulisan anda benar-benar bisa menjadi inspirasi.
BalasHapus