Pertemuan keenam, 03
Oktober 2011
Ibu Aminah Swarnawati (Ami)
Media massa mempengaruhi
khalayak melalui pesan-pesan yang disebarluaskan secara besar-besaran. Media
massa mempengaruhi khalayak dalam jangka pendek dan jangka panjang. Pengaruh
jangka panjang sering dipersoalkan, karena mempunyai kekuatan tertentu yang
dapat memengaruhi kebudayaan khalayak yang menerima pesan.
Salah satu tema yang paling
menarik tentang pengaruh komunikasi massa terhadap khalayak yang berubah
menjadi ciri massa adalah TERCIPTANYA BUDAYA MASSA. Menurut Bennet dan Tumin,
KEBUDAYAAN MASSA adalah “seperangkat ide bersama dan pola perilaku yang
memintas garis sosio-ekonomi dan pengelompokan sub-kultural dalam suatu
masyarakat yang kompleks”.
Budaya massa adalah budaya
populer yang dihasilkan industri produksi massa dan dipasarkan untuk
mendapatkan keuntungan pada khalayak konsumen. Budaya massa adalah budaya
populer yang diproduksi untuk pasar massal. Menurut Aliran Frankfurt, budaya
populer adalah budaya massa yang dihasilkan industri budaya untuk stabilitas maupun
kesinambungan kapitalisme.
Budaya massa memiliki
rumusan, berulang dan bersifat permukaan, mengagungkan kenikmatan, sentimental,
sesaat dan menyesatkan dengan mengorbankan nilai-nilai keseriusan, intelektualitas,
penghargaan atas waktu. Jadi budaya massa adalah suatu kebudayaan yang kurang
memiliki tantangan dan rangsangan intelektual, lebih cenderung pada
pengembangan fantasi tanpa beban dan pelarian.
Fishwick dan Wilson
mengakui bahwa BUDAYA POPULER sebenarnya dapat diartikan sebagai “ bentuk
budaya yang dimiliki oleh setiap orang dalam suatu masyarakat tertentu”. Budaya
tersebut dipengaruhi berbagai rangsangan dari luar (termasuk media massa) yang
tidak kita sadari namun membuat kita melakukannya. Budaya massa dapat muncul
dalam bentuk mengikuti selera masyarakat secara beramai-ramai memilih jenis
produk seperti shampoo Pantene, sabun mandi Lux, pelembab Ponds, makan di pizza
Hut, minum kopi di Starbuck, mendengarkan musik pop/dangdut, menggunting rambut
ala Demi More, menjagokan Argentina pada perebutan piala dunia dan sebagainya.
Budaya massa senang
menciptakan dan memenuhi IMPIAN-IMPIAN. Budaya massa memenuhi kebutuhan massa
akan HIBURAN, bukan ESTETIKA, KEDALAMAN atau KONTEMPLASI. Akibatnya orang
cenderung menyukai yang ringan-ringan, tidak begitu suka pada yang serius atau
‘berat-berat’. Akibatnya timbul penggolongan “BUDAYA TINGGI” dan “BUDAYA
RENDAH”.
Media massa berperan
penting dalam menyebarluaskan dan menyiarkan budaya massa ini. Publisitas, iklan
dan reportase turut menunjang. Budaya Massa tidak hanya bersifat material
tetapi juga immaterial, seperti cara berpendapat dan berpikir, cara merasakan
sesuatu sampai pada tindakan tertentu. Ghanney dan McQuail mengemukakan bahwa
peranan media massa dalam kaitannya dengan budaya massa adalah mengendalikan
dan mengarahkan perilaku khalayak konsumen (misalnya melalui iklan) atau juga
perilaku politik pada sejumlah besar pemilih dalam PEMILU. Budaya massa dapat berupa
antara lain novel, lagu pop. Karya budaya yang diproduksi untuk konsumsi massa,
karya budaya popular.
Seni hiburan populer dan biasanya juga komersial disebut juga
KITSCH.
Menurut Umar Kayam, KITSCH
mempunyai ciri-ciri :
- Gampang dimengerti
- Gampang “dikunyah”
- Tidak menuntut
partisipasi yang jauh dari penggemarnya
- Tidak menuntut
pemikiran yang mendalam dari khalayak
- Selalu siap sedia
untuk “disantap” dengan langsung dan segera
3 TAHAP PERKEMBANGAN MEDIA MASSA DALAM KAITANNYA DENGAN BUDAYA
MASSA
Wilson mengutip pendapat Ralp Lowenstein dan John Merril
mengatakan bahwa ada 3 tahap perkembangan media massa dalam kaitannya dengan
budaya massa :
1.
Tahap Elit
Berlalunya perkembangan media cetak pada abad 16, maka
BUDAYA ELIT yang merupakan budaya yang dimonopoli kaum berpendidikan dan kaum
kaya serta para aristokrat perlahan memudar. Budaya elit mulanya mengacu pada
suatu budaya masyarakat kelas atas.Pada saat itu pemisahan budaya kelas atas
dengan kelas bawah masih sangat terasa. Masyarakat bawah hanya berfungsi
sebagai penghibur kaum elit.
2.
Tahap Populer
Kondisi di atas tidak bertahan lama, perkembangan media massa
memungkinkan rakyat biasa menikmati, mengikuti, mempelajari segala sesuatu yang
sebelumnya hanya dinikmati oleh kelompok atas. Pada saat bangkitnya masyarakat
untuk memiliki segala sesuatu berdasarkan terpaan media itulah timbul BUDAYA
MASSA.
3.
Tahap Spesialisasi
AS dipandang dalam sejarah media massa sebagai bangsa yang
mempelopori era spesialisasi media. Di AS timbul gerakan yang mengarahkan media
kepada khalayak tertentu, baik secara demografis (berdasarkan usia, pekerjaan,
jenis kelamin) maupun psikografis (berdasarkan gaya hidup, perilaku, sikap,
pandangan). Pada tahap spesialisasi media dikelola secara profesional kemudia
diarahkan kepada khalayak yang sudah direncanakan terlebih dahulu.
Sumber:
Bahan power point Bu Ami
gambar dari GOOGLE, search word: media dan budaya massa


Tidak ada komentar:
Posting Komentar