Pertemuan kelima, 26 September 2011
Bpk. Tri Agung Kristanto, Ka.Desk Politik dan Hukum KOMPAS
Pada pertemuan kali ini Pak Agung mencoba memberikan pengajaran politik dan hukum di Indonesia dengan perbandingannya dengan negara lain di dunia.
Di Indonesia sendiri, potret kehidupan politik dan hukumnya sudah buruk di mata masyarakat. Kata berpolitik sendiri sudah dianggap negatif padahal arti sebenarnya politik adalah berbagai cara/kegiatan yang diusahakan untuk tercapainya kebaikan bersama (berkonotasi positif). Sekarang politik hanya digunakan untuk tercapainya kekuasaan/kedudukan di suatu wilayah bahkan negara.
Banyak partai politik bermunculan sejak era reformasi. Masing-masing partai berbondong-bondong "memasukkan" anggotanya ke dalam bangku kenegaraan. Tetapi tujuannya bukan demi kebaikan bersama tetapi lebih kepada kebaikan sendiri dan keluarga, mensejahterakan diri sendiri dulu lebih baik. Penyejahteraannya pun bukan dengan uang halal tetapi sedikit demi sedikit uang haram..
Saat politik mulai merajalela ke arah keburukan, cara terakhir adalah melalui tindakan hukum. Tapi apa daya hukum di negara ini sangat lemah alasannya hukum juga di"politik"kan. Ini lah yang menjadikan orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin miskin di negara ini. Hukum hanya berpihak kepada yang "kaya". Contohnya seorang pencuri ayam, piring, mungkin baju jemuran akan dipenjara lebih berat ketimbang koruptor yang selalu mendapatkan remisi (pengurangan masa tahanan), ck,ck,ck..
Hukum juga seharusnya adil, tetapi apa arti dari kata adil itu? Coba dipikirkan!! Semua orang akan menjawab sama rata, sama rasa.. Itu betul, tapi coba pikirkan lagi bila pertanyaannya seperti ini "Ibu harus adil dengan kakak dan adik, bila kakak dibelikan baju, maka adik juga harus dibelikan baju, bila kakak dibelikan baju ukuran L dan adik ukuran S, maka sudah tidak sama rata dan sama rasa." Jadi apakah adil itu sebenarnya? Bila dikatakan adil sesuai kebutuhan masing-masing pihak, maka terjawab sudah, adil bagi koruptor dan pencuri ayam, piring, baju jemuran harus sesuai kebutuhan.
Maling diberi hukuman lebih berat karena kebutuhan mereka, koruptor lebih ringan karena ia tak mau waktunya terkuras dipenjara tanpa mendapat tawaran korupsi yang menggiurkan, sehingga ia harus cepat bebas dan bekerja sebagai koruptor lagi, sungguh orang yang rajin dan bekerja keras!!
Jadi seperti itulah cermin kesejahteraan rakyat Indonesia. Politik dan hukum menjadikan para koruptor sejahtera.
Politik dan hukum adalah salah satu bagian dari terbangunnya suatu negara. Politik dan hukum juga tidak lepas dari kehidupan sehari-hari kita. Sebagai bagian yang krusial dari hidup, apabila arah dan tujuannya sudah tidak benar maka bisa dipastikan kehidupan pun menjadi tidak benar adanya. Korupsi sudah menjamur dan menjadi budaya bangsa, hal ini sudah dianggap biasa dan para pelaku pun sudah tidak tau malu. Hal ini sampai membuat presiden harus me-reshuffle kabinetnya karena banyak yang tertangkap melakukan korupsi. Saya yakin hampir 90% para sarjana di gedung pemerintahan pernah melakukan korupsi hanya masih kecil-kecilan sehingga tidak banyak terekspos. Semoga dengan reshuffle ini hanya orang-orang yang kredibel yang bisa menempati posisi tinggi pemerintahan, walau sebenarnya sulit mencari orang-orang yang bersih.
Di negara lain pun korupsi merajalela, namun entah bagaimana warga masih tersejahterahkan dan menerima penghidupan yang layak, tidak seperti di Indonesia.
Kekuasaan telah menarik seseorang untuk melakukan KKN, yang mengetahui hanya bisa diam dan ikut terlibat. Praktek hukum Indonesia pun sangat lemah, tidak ada contoh teladan mengenai praktik politik dan hukum yang benar. Para penegak hukum pun ikut disuap. Mau dijadikan seperti apa negara ini di kemudian hari??
Diperlukan teladan yang bisa menjadi contoh baik akan penghidupan negara yang benar, jika tidak dimulai dari sekarang maka sudah dipastikan negara ini akan semakin terpuruk. Mari kita perbaiki dari sekarang dan jadikan Indonesia negara yang tau diri dan tau malu di mata warganya sendiri lalu dunia. Kebiasaan buruk bukan menjadi biasa tetapi kebiasaan baiklah yang dipuji.
Sedikit tambahan
(sumber: http://pusatwawasan.blogspot.com/2010/01/maling-ayam-dan-koruptor.html)
Kenapa hukuman bagi koruptor lebih “enak” daripada tukang maling ayam?
Sering kita lihat di media masa bagaimana seorang pencuri (maling) ayam
babak belur dihajar masa. Berdarah-darah, dengan muka hampir tak
berbentuk lagi. Dan yang paling tragis, ada juga yang dibakar
hidup-hidup, disiram minyak atau bensin, tak kenal kasihan. Ngeri bila
kita menyaksikannya. Di lain pihak, tak jarang pula kita saksikan
bagaimana seorang koruptor, yang telah menggondol milyaran uang rakyat,
hukumannya malah “enak”. Tak tersentuh pentungan aparat hukum, apalagi
hajaran masa. Dengan fasilitas serba lengkap dan wah, sang koruptor bisa
nyenyak tidur walau tinggal dalam penjara. Sang koruptor hanya pindah
tidur, dari rumahnya ke “hotel” yang ada di penjara. Untung itu juga
bisa ketangkap dan dipenjarakan. Sedangkan koruptor-koruptor lain, masih
bisa dengan lihai lepas dari jerat hukum dengan alasan kesehatan. Tak
adil! Itulah pastinya, bagi kita kebanyakan, yang bisa dikatakan. Tapi,
ada teman saya yang mengatakan bahwa sebenarnya sudah adil (untuk ukuran
dunia). Entah, saya tak tahu apakah teman saya itu bercanda atau
serius. “Adil apanya?”, pikir saya mula-mula. Dengan kecemerlangan
idenya, teman saya itu memberi jawaban matematis yang masuk akal atas
pertanyaan yang saya tulis di awal artikel ini. Supaya lebih enak dibaca
dan tak menyinggung langsung pihak-pihak tertentu, saya tak akan
langsung menceritakan jawaban yang diutarakan teman saya itu. Saya lebih
suka mendongeng saja. Biar bisa menulis lebih banyak, biar bisa bermain
kata-kata, biar bisa lancar bertutur secara tulisan, biar busa kata
yang menumpuk ini bisa keluar. Dan, biar-biar yang lainnya. Ya sudah,
mudah-mudahan Anda tak sabar. Begini dongeng bohong-bohongannya. Sebut
saja namanya Buxh, seorang koruptor yang baru saja diadili dan kena
hukuman selama lima tahun penjara. Sebut juga Walxer, seorang raja
maling ayam yang sudah bikin polisi bosan karena seringnya ia keluar
masuk penjara. Kali ini Walxer dihukum agak lama, selama setahun, karena
selain mencuri ayam ia juga melukai sang pemilik ayam yang berusaha
mempertahankan ayamnya. Kebetulan, Buxh dan Walxer untuk sementara
diinapkan di sel yang sama. Dalam sel tersebut, terjadilah perbincangan
hangat di antara mereka. Seperti layaknya orang yang baru kenal, mereka
pun memulai obrolan dengan basa-basi dulu. Selanjutnya begini obrolannya
itu.
Walxer : “Hai Buxh, kamu enak ya banyak uang. Hukumannya juga
bakal enak, *ga* akan lama di sini. Sebentar lagi kamu pindah ke tempat
yang nyaman”
Buxh : “Iya dong..”
Walxer : “Wah, dunia ini *ga*
adil, pengadilan di negeri ini *ga* adil. Kamu yang maling milyaran uang
rakyat malah akan dihukum di tempat enak. Aku, yang cuma maling ayam
untuk nyambung makan saja, harus babak belur begini. Sial!”
Buxh :
“Hush…, siapa bilang ga adil?”
Walxer : “Lho... kamu ini gila ya...?
*Bayangin aja*, kamu *nyuri* uang milyaran, lha aku cuma maling ayam,
yang paling kalau dijual laku Rp. 30.000 perak saja! Aku dibikin bonyok
begini, lha kamu malah akan enak-enakan nanti...”
Buxh : “Gini aja,
kita bandingkan secara matematis, mana di antara kita yang paling banyak
merugikan. Kamu Rp. 30.000, dan aku Rp. 2.000.000.000 (dua milyar)...”
Walxer : “Lhooo kamu ini, di mana-mana juga, dua milyar itu pasti
jauh lebih gede daripada tiga puluh ribu perak... gila kamu! *Ga* usah
dibandingkan juga sudah jelas!” Buxh : “*Gini* cara membandingkannya.
Kamu kan *nyuri* ayam pada satu orang. Harga ayam Rp.30.000. Jadi, Rp
30.000 dibagi sengan satu, artinya kamu merugikan orang lain sebesar Rp.
30.000” Walxer mendengarkan dengan serius…..
Buxh : “Nah, sedangkan
aku, *ngambil* uang rakyat negeri ini, cuma dua milyar. Nah, kamu
tahukan kalau jumlah rakyat di negeri ini sekitar 200.000.000 (dua ratus
juta) jiwa? Makanya, aku hanya merugikan orang lain itu cuma Rp.10
(sepuluh rupiah) saja, hasil dari dua milyar dibagi dua ratus juta. Iya
*engga*? Makanya wajar saja, hukuman aku enak. Lha wong cuma Rp. 10,-
saja, mana mungkin ada yang tega memukuli aku gara-gara *nyuri* uang
segitu, sepuluh perak yang tak berarti…”
Walxer termenung memikirkan
penjelasan Buxh, dan…
Walxer : “ Iya ya…., wah kalau begitu enak juga
jadi koruptor…?” (Pikiran Walxer melayang-layang, ....)
Perbincangan
pun sempat terhenti beberapa saat. Buxh tampak bangga bisa meyakinkan
Walxer.
Kemudian...? Saya sebenarnya ingin melanjutkan dongeng tersebut.
Berhubung, khawatir menyinggung-nyinggung secara langsung, ya saya
hentikan saja dongengnya. Mau tahu lanjutannya? Tentang Penulis: Master
Student of Freudenthal Institute, Utrecht University, The Netherlands
Jurusan Pendidikan Matematika, Universitas Pendidikan Indonesia (dulu,
namanya IKIP Bandung)
(Sumber: http://www.detiknews.com/read/2011/07/30/165830/1692942/10/jika-koruptor-dimaafkan-maling-ayam-juga-dimaafkan)
Jakarta -
Usulan Marzuki Alie untuk memaafkan koruptor dinilai
mencederai rasa keadilan masyarakat. Kenapa koruptor harus dimaafkan?
Kenapa Marzuki tidak mengusulkan maling ayam saja yang dimaafkan?
"Akan
muncul pertanyaan di publik mengapa kejahatan korupsi yang dimaafkan?
Mengapa kejahatan mencuri ayam atau semangka tidak diusung oleh Marzuki
untuk dimaafkan juga?" ujar Guru Besar Ilmu Hukum FHUI, Hikmahanto
Juwana, dalam keterangan tertulis kepada detikcom, Sabtu (30/7/2011). Hikmahanto
mempertanyakan apakah koruptor dimaafkan karena dilakukan oleh
orang-orang yang memiliki kedudukan dan status sosial terhormat?
Sementara para pelaku pencurian ayam karena tidak memiliki status sosial
terhormat tidak perlu diperjuangkan untuk dimaafkan?
"Publik pun akan mempertanyakan keberpihakan Marzuki Alie pada rakyat karena dianggap membela rakyat berkelas, tetapi tidak rakyat pada umumnya," kritik Hikmahanto.Hikmahanto menyayangkan pernyataan seperti ini keluar dari mulut seorang pejabat publik. Apalagi dari seorang Ketua DPR yang merupakan tempat menumpahkan aspirasi rakyat.
"Marzuki Alie adalah ketua dari lembaga yang menggunakan kata rakyat pada dan lembaga tersebut tidak membedakan rakyat berkelas atau tidak," tegasnya. Sebelumnya, Ketua DPR Marzuki Alie mengusulkan agar koruptor dimaafkan. Setelah itu mereka diminta mengembalikan uang ke negara. Namun kalau koruptor mengulangi perbuatannya, mereka dihukum mati.
"Publik pun akan mempertanyakan keberpihakan Marzuki Alie pada rakyat karena dianggap membela rakyat berkelas, tetapi tidak rakyat pada umumnya," kritik Hikmahanto.Hikmahanto menyayangkan pernyataan seperti ini keluar dari mulut seorang pejabat publik. Apalagi dari seorang Ketua DPR yang merupakan tempat menumpahkan aspirasi rakyat.
"Marzuki Alie adalah ketua dari lembaga yang menggunakan kata rakyat pada dan lembaga tersebut tidak membedakan rakyat berkelas atau tidak," tegasnya. Sebelumnya, Ketua DPR Marzuki Alie mengusulkan agar koruptor dimaafkan. Setelah itu mereka diminta mengembalikan uang ke negara. Namun kalau koruptor mengulangi perbuatannya, mereka dihukum mati.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar