Perang memberi
kesempatan untuk bersiap dan melawan, namun genosida adalah peperangan antara
yang kuat dengan yang lemah tanpa perlawanan.
Pernah kah Anda mendengar kata genosida? Genosida atau genosid adalah salah satu dari empat pelanggaran
HAM (Hak Asasi Manusia) berat yang berada dalam yurisdiksi International
Criminal Court. Pelanggaran HAM berat lainnya adalah kejahatan terhadap
kemanusiaan, kejahatan perang dan kejahatan agresi. (lead)
Menurut Undang-Undang nomor 26 tahun 2000
tentang pengadilan HAM pasal 8, kejahatan genosida adalah setiap perbuatan yang
dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau
sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok etnis, kelompok agama, dengan cara
membunuh anggota kelompok; mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang
berat terhadap anggota-anggota kelompok; menciptakan kondisi kehidupan kelompok
yang akan mengakibatkan kemusnahan secara fisik baik seluruh atau sebagiannya; memaksakan
tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran di dalam kelompok; atau
memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok tertentu ke kelompok lain.
Selain itu, ada pula istilah genosida budaya yang berarti pembunuhan peradaban
dengan melarang penggunaan bahasa dari suatu kelompok atau suku, mengubah atau
menghancurkan sejarahnya atau menghancurkan simbol-simbol peradabannya.
Kata genosida pertama kali digunakan oleh seorang ahli hukum Polandia, Raphael Lemkin pada tahun 1944 dalam bukunya Axis Rule in Occupied Europe yang diterbitkan di Amerika Serikat. Kata ini diambil dari bahasa Yunani dimana genos berarti ras, bangsa atau rakyat dan dari bahasa Latin dimana caedere berarti pembunuhan.
Genosida ini pernah terjadi di beberapa belahan dunia dari masa
ke masa.
§ Pembantaian bangsa Kanaan oleh bangsa Yahudi
pada milenium pertama sebelum Masehi.
§ Pembantaian bangsa Helvetia oleh Julius Caesar
pada abad ke-1 SM.
§ Pembantaian suku bangsa Keltik oleh bangsa
Anglo-Saxon di Britania dan Irlandia sejak abad ke-7.
§ Pembantaian bangsa-bangsa Indian di benua
Amerika oleh para penjajah Eropa semenjak tahun 1492.
§ Pembantaian bangsa Aborijin Australia oleh
Britania Raya semenjak tahun 1788.
§ Pembantaian Bangsa Armenia oleh beberapa
kelompok Turki pada akhir Perang Dunia I.
§ Pembantaian Orang Yahudi, orang Gipsi (Sinti
dan Roma) dan suku bangsa Slavia oleh kaum Nazi Jerman pada Perang Dunia II.
§ Pembantaian suku bangsa Jerman di Eropa Timur
pada akhir Perang Dunia II oleh suku-suku bangsa Ceko, Polandia dan Uni Soviet
di sebelah timur garis perbatasan Oder-Neisse.
§ Pembantaian lebih dari dua juta jiwa rakyat
oleh rezim Khmer Merah pada akhir tahun 1970-an.
§ Pembantaian bangsa Kurdi oleh rezim Saddam Hussein
Irak pada tahun 1980-an.
§ Efrain Rios Montt, diktator Guatemala dari
1982-1983 telah membunuh 75.000 Indian Maya.
§ Pembantaian Rwanda, pembantaian suku Hutu dan
Tutsi di Rwanda pada tahun 1994 oleh terutama kaum Hutu.
§ Pembantaian suku bangsa Bosnia dan Kroasia di
Yugoslavia oleh Serbia antara tahun 1991-1996. Salah satunya adalah Pembantaian
Srebrenica, kasus pertama di Eropa yang dinyatakan genosida oleh suatu
keputusan hukum.
§ Pembantaian kaum berkulit hitam di Darfur oleh
milisi Janjaweed di Sudan pada tahun 2004.
Ditulis oleh: Aulia Noviyandra Yulius
Genosida di Rwanda
Salah satu genosida yang paling terkenal adalah
pembantaian di Rwanda, Afrika Tengah. Pembantaian di Rwanda memakan korban
tidak kurang dari 800.000 jiwa atau paling banyak sekitar satu juta jiwa suku
Tutsi dan Hutu moderat. Pelakunya adalah sekelompok ekstremis Hutu yang dikenal
sebagai Interahamwe. Kejadian ini berlangsung selama 100 hari pada tahun 1994.
Peristiwa ini bermula pada tanggal 6 April 1994, ketika Presiden Rwanda,
Juvenal Habyarimana yang berasal dari etnis Hutu menjadi korban penembakan
saat berada di dalam helikopter.
Disinyalir, peristiwa penembakan itu dilakukan
sebagai protes terhadap rencana Presiden Habyarimana untuk melakukan persatuan
etnis di Rwanda dan pembagian kekuasaan kepada etnis-etnis tersebut. Rencana
itu telah disusun setahun sebelumnya yang dinamakan Piagam Arusha (Arusha
Accord). Pembagian kekuasaan ke suku yang berbeda tidak diterima oleh
kelompok militan yang ingin mempertahankan sistem pemerintahan satu suku.
Kekhawatiran sekaligus kekecewaan berlebihan inilah yang akhirnya memuncak
menjadi tindak pembunuhan terhadap presiden sendiri dan berlanjut ke pembunuhan
massal.
Beberapa jam setelah Habyarimana terbunuh,
seluruh tempat di Rwanda langsung diblokade. Pasukan khusus Pengawal Presiden
dengan bantuan instruktur Perancis segera beraksi. Mereka bekerja sama dengan
kelompok militan Rwanda, Interahamwe dan Impuzamugambi. Dimulai dari ibu kota
Rwanda, ketiga kelompok bersenjata itu mulai membunuh siapa saja yang mendukung
Piagam Arusha tanpa memedulikan status dan sebagainya.
Pegunungan Gisozi disinyalir menjadi tempat
pemakaman massal. Di tempat ini diperkirakan terdapat 250.000 jasad warga tak
berdosa korban konspirasi keji. Dikatakan konspirasi karena kemudian berkembang
cerita bahwa kudeta ini dilakukan pemimpin Front Patriotik Rwanda, RPF (Rwanda
Patriotic Front) yaitu Paul Kagame yang akhirnya tampil sebagai Presiden
menggantikan Habyarimana.
Pembunuhan besar-besaran di Rwanda sayangnya
tidak mendapatkan perhatian besar dari dunia internasional. Salah satu penyebab
paling dominan dikarenakan negeri ini tidak memiliki nilai kepentingan
strategis di mata dunia. Disebutkan bahwa veto dari Dewan Keamanan PBB akhirnya
menurunkan jumlah pasukan penjaga perdamaian dari 2500 personel menjadi 450
personel saja. Hal ini sangat disayangkan melihat berapa banyak korban jiwa tak
berdosa yang dibunuh, berapa banyak HAM yang telah dilanggar.
sumber:
http://worldpoliticsuncovered.files.wordpress.com/2012/04/rwandan-genocide.jpg
|
Kisah pembantaian tragis ini banyak dituangkan
dalam filmografi dan dokumenter yang mengambil sudut pandang berbeda-beda.
Salah satu film yang terkenal adalah Hotel Rwanda yang diproduksi pada tahun
2004. Film mengenai Paul Rusesabagina, seorang manajer hotel di Kigali, dan
kisah di sekitar Hotel des Mille Collines perlindungan bagi kaum Tutsi dan Hutu
moderat setelah pemiliknya kabur karena genosida.
|
sumber:
http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcS-QUlTnzCCd--KDzoIfMrYTLlpweKJqC_4bXrDdS99SjCV5FXDl7dbvg59FA
|
Pembantaian Srebrenica
Genosida Srebrenica terjadi pada bulan Juli
tahun 1995 di daerah Srebrenica, Bosnia oleh pasukan Serbia Bosnia pimpinan
Jenderal Ratko Mladic terhadap remaja etnis Muslim Bosniak. Jumlah korban
berkisar 8000 lelaki dan remaja etnis Muslim Bosniak. Jenderal Mladic kini
menjadi buronan internasional yang telah didapati bersalah karena genosida dan
berbagai kejahatan perang lain di Yugoslavia. Pada tanggal 27 Februari 2007,
Mahkamah Internasional menetapkan kejadian ini sebagai sebuah genosida dan
melanggar hukum HAM terberat. Selain pasukan Serbia Bosnia, pasukan paramiliter
Serbia atau Scorpion juga turut bersalah atas pembantaian ini.
Pada tahun 1992, peperangan pecah antara Serbia
dan Bosnia. Karena kekejaman dan pembersihan etnis yang dilakukan para tentara
Serbia, umat Muslim Bosnia harus mengungsi ke kamp-kamp pengungsian. Srebrenica
adalah salah satu kamp terbesar dan dinyatakan oleh PBB sebagai zona aman. Kamp
itu sendiri dijaga oleh 400 penjaga perdamaian dari Negeri Belanda.
Pada tanggal 6 Juli 1995, pasukan Korps Drina
dari tentara Serbia Bosnia mulai menggempur pos-pos tentara Belanda di
Srebrenica. Pada tanggal 11 Juli, pasukan Serbia memasuki Srebrenica.
Anak-anak, wanita dan orang tua berkumpul di Potocari untuk mencari
perlindungan dari pasukan Belanda. Pada 12 Juli, pasukan Serbia mulai
memisahkan laki-laki berumur 12-77 tahun untuk “diinterogasi”. Pada tanggal 13
Juli pembantaian pertama terjadi di gudang dekat desa Kravica. Pasukan Belanda
menyerahkan 5000 pengungsi Bosnia kepada pasukan Serbia untuk ditukarkan dengan
14 tentara Belanda yang ditahan pihak Serbia. Pembantaian terus berlangsung
hingga pada 16 Juli berita adanya pembantaian mulai tersebar. Tentara Belanda
meninggalkan Srebrenica dan juga meninggalkan persenjataan dan perlengkapan
mereka. Selama 5 hari pembantaian ini, 8000 Muslim Bosnia telah terbunuh.
Menurut Komisi Federal untuk orang hilang,
jumlah korban yang dikonfirmasi mencapai 8.373 jiwa. Pembantaian Srebrenica
dianggap secara meluas sebagai pembunuhan massal terbesar di Eropa semenjak
Perang Dunia II. Ini juga merupakan kejadian pertama yang ditetapkan sebagai
genosida secara hukum. Kejadian ini dianggap sebagai kejadian paling menakutkan
dan kontroversial dalam sejarah Eropa modern pasca Perang Dunia II.
Kota Srebrenica, timur Bosnia-Herzegovina kini
menjadi wilayah Republik Serbia, sesuai hasil kesepakatan damai Dayton tahun
1995 lalu. Meski demikian, masih banyak umat muslim tinggal di sana dan
mengingat trauma pembantaian sistematis yang dilakukan milisi Serbia.
Seperti dilansir TEMPO.CO, mantan pemimpin
Serbia Bosnia, Radovan Karadzic menyatakan di depan pengadilan kriminal
internasional di Belanda bahwa seharusnya ia dihargai untuk semua tindakan yang
telah ia lakukan untuk “mengurangi penderitaan”. Karadzic berkata bahwa ia
adalah seorang “pria toleran” yang berjuang mewujudkan perdamaian di Bosnia.
Karadzic ditangkap di Beograd pada tahun 2008 setelah hampir 13 tahun dalam
pelarian.
Dia menghadapi 10 dakwaan genosida dan kejahatan
terhadap kemanusiaan selama perang pada 1990-an, termasuk pembantaian
Srebrenica dan pengepungan Sarajevo. Karadzic mengkritik liputan media sebagai
bias dan diperdebatkan jumlah resmi korban perang. Menurutnya, angka sebenarnya
korban perang adalah tiga sampai empat kali lebih sedikit. Lebih dari 100.000
orang tewas, menurut angka resmi.
Wartawan BBC di Den Haag mengatakan banyak
korban dan keluarga korban perang ini telah melakukan perjalanan dari Bosnia
untuk melihat siding dari orang yang mereka anggap paling bertanggung jawab
atas penderitaan mereka. Setiap pernyataan Karadzic diteriaki dengan nada
jijik.
Mantan komandan militer Serbia Bosnia, Ratko
Mladic juga diadili di Den Haag.
Baca juga:
Muslim Rohingya di Burma (Myanmar)
Di Myanmar baru-baru ini, terjadi kasus yang
mendekati definisi genosida yaitu pembantaian kaum Muslim Rohingya oleh militer
Myanmar dan kaum mayoritas di Burma (Myanmar). Muslim Rohingya adalah warga
kaum minoritas yang dianggap imigran gelap dari Bangladesh oleh warga setempat.
Sudah sejak dulu ketidaksukaan warga setempat ditunjukkan pada kaum Muslim
Rohingya. Lalu pada pertengahan tahun ini, sebuah kasus pembunuhan dan
pemerkosaan terhadap gadis kaum mayoritas setempat menjadi pemicu dimulainya
aksi pembantaian terhadap kaum Muslim Rohingya yang terkonsentrasi di wilayah
Arakan.
|
sumber:
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhYqaZ3U9XYGg3WZH2ATJjzSN_w263h_-SWEw7KEc23mZrxVUJwxYNjHHXenLOlm5I6JUZ1Lo9aS7ncZ5TBvj_3Wn4wFukRFRoysQHowVC__2qmiST-M1RioSPJolqwAl9kS0RHO9IwLy2I/s1600/pembantaian-muslim-rohingya.jpg
|
Sebagai kaum yang terasing, Muslim Rohingya pun
ditolak oleh pemerintah setempat. Setiap aksi pembantaian, pembakaran dan
pengusiran oleh kaum mayoritas terlihat dibantu oleh para petugas keamanan.
Tidak ada kaum mayoritas yang ditangkap walau melakukan pembunuhan.
Pada awal pemberitaan kasus ini, banyak yang mengira
bahwa ini adalah konflik agama antara kaum Buddha Rakhine (warga mayoritas)
dengan kaum Muslim Rohingya (warga minoritas). Namun nyatanya ini adalah
konflik masyarakat antara siapa yang lebih berhak menduduki satu wilayah dan
siapa yang tidak. Tapi cara yang digunakan tidak lah etis dan melanggar hak-hak
asasi manusia. Hingga akhir tahun ini, sudah ribuan jiwa kaum Muslim Rohingya
melayang dan ratusan lainnya terluka atau secara mental tersiksa. Masalah ini
masih terus berlangsung, bagaimana campur tangan dunia untuk mengatasi masalah
ini?
|
sumber:
http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTxEtqYH47RLoZ80H2SL3zNrV8C_Hi3GG2Ml0Yugj8_bcpCkYz6XX8P-oxQ6A
|
Membunuh dan membiarkan seseorang hidup dalam
keadaan tersiksa saja sudah menjadi pelanggaran HAM berat. Bagaimana bisa kita
sebagai sesama manusia yang tinggal di Bumi ini dan memiliki hak sama untuk
hidup bebas harus membunuh hanya karena perbedaan SARA. Marilah mulai sekarang
saling peduli dan menghormati hak-hak sesama manusia. Tidak ada yang dihasilkan
dari genosida hanya keegoisan, kekejaman dan penderitaan umat manusia.
|
sumber:
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6e3gMrnDLaNju5KW3nA4vwTafuywcLWQJzuFC15ylIO5OhrI8r-KCoY7vtpjWJLLLvRKSd8ACiVEwiNkO7sryRKhHgUT_gk2jQ58AZo0Qox676DMbdSI0zdInbeag_k4QfiDHI6kXeLg/s1600/stop_genocide.jpg
|
Sumber:
http://luar-negeri.kompasiana.com/2012/07/29/inilah-kronologis-lengkap-pemicu-tragedi-rohingya/
http://lirilir-ambulan.blogspot.com/2012/08/ini-dia-kronologi-genosida-muslim.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Filmografi_Genosida_Rwanda
http://id.wikipedia.org/wiki/Pembantaian_Rwanda
http://id.wikipedia.org/wiki/Genosida
http://id.wikipedia.org/wiki/Pembantaian_Srebrenica
http://www2.tempo.co/read/news/2012/10/17/117436154/Radovan-Karadzic-Bantah-Lakukan-Kejahatan-Perang




.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar